Prodi Tadris Bahasa Indonesia UIN SUNA Gelar Sosialisasi Anti-Perundungan dan Pencegahan Pelecehan Seksual
Lhokseumawe— Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIn) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menggelar Sosialisasi dan Pelatihan Mahasiswa tentang Anti-Perundungan, Pencegahan dan Penanganan Pelecehan Seksual, serta Anti-Diskriminasi dan Intoleransi, Rabu (2/9/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang 30, lantai 3 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan akademik yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari berbagai bentuk perundungan, pelecehan seksual, diskriminasi, maupun intoleransi.
Dalam kegiatan tersebut, Resa Jumiati, M.Pd., bertindak sebagai pemateri. Ia menyampaikan materi mengenai perundungan (bullying) serta pentingnya membangun sikap toleransi dalam kehidupan mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, perundungan merupakan perilaku yang tidak dapat dibenarkan karena dapat memberikan dampak negatif terhadap korban, baik secara psikologis maupun sosial. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kesadaran untuk mencegah dan tidak melakukan tindakan perundungan dalam bentuk apa pun.
Selain itu, sikap toleransi juga menjadi salah satu hal penting yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa. Perbedaan latar belakang, karakter, pendapat, dan cara pandang merupakan bagian dari kehidupan bersama yang harus disikapi dengan saling menghormati.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengenali berbagai bentuk perundungan, pelecehan seksual, diskriminasi, dan intoleransi serta memahami langkah yang tepat dalam mencegah dan menanganinya.
Ketua Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Istiqamah, M.Pd., menyampaikan harapannya agar kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Ia berharap mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia dapat menjadi bagian dari upaya membangun budaya akademik yang menjunjung tinggi toleransi, menghormati perbedaan, serta menolak segala bentuk perundungan, pelecehan seksual, diskriminasi, dan intoleransi.
Kegiatan sosialisasi dan pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada pemahaman secara teoritis, tetapi juga dapat diterapkan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang sehat, inklusif, dan berintegritas.