Mahasiswi TBIN Raih Prestasi Nasional melalui Cerpen Bertema Kehidupan Desa

Lhokseumawe- Mahasiswi Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Anggi Nur Rahma, berhasil meraih Juara 3 Lomba Tulis Cerpen Mahasiswa Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Lomba Seni Sastra Indonesia bersama Penerbit Aksara Pilar Nusantara.

Kompetisi tersebut berlangsung pada 05–12 Mei 2026, sedangkan pengumuman pemenang dilaksanakan pada 13 Mei 2026. Dalam kompetisi tersebut, Anggi mengirimkan naskah cerpennya  yang berjudul “Bangga Menjadi Anak Desa” pada 10 Mei 2026 dan berhasil menorehkan prestasi melalui karya yang lahir dari pengalaman pribadi serta kedekatannya dengan kehidupan desa.

Cerpen “Bangga Menjadi Anak Desa” juga menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di ruang kuliah mampu melahirkan prestasi nyata. Karya tersebut merupakan output dari Mata Kuliah Keterampilan Menulis yang diampu oleh Ibu Lina Sundana, M.Pd., yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan karya tulis kreatif dan kompetitif.

Ketua Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Ibu Istiqamah, M.Pd., turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Anggi menunjukkan bahwa mahasiswa TBIN memiliki potensi besar untuk bersaing melalui karya sastra yang lahir dari pengalaman, kepekaan sosial, dan proses pembelajaran yang terarah. Ia juga menambahkan bahwa prestasi tersebut memperlihatkan pembelajaran di TBIN tidak berhenti pada penguasaan teori semata, melainkan mampu mendorong mahasiswa menghasilkan karya nyata yang berprestasi di tingkat nasional. Ia juga berharap capaian Anggi dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus menulis, berkarya, dan berani mengikuti berbagai kompetisi.

Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan bahwa cerita sederhana dari kehidupan sehari-hari dapat memiliki daya tarik yang kuat ketika ditulis dengan kreativitas dan ketulusan. Melalui karya tersebut, Anggi tidak hanya membawa pulang prestasi, tetapi juga menghadirkan pesan tentang pentingnya menghargai akar budaya dan bangga terhadap kehidupan desa.

Share this Post