Puisi "Di Ujung Senja, Harapan Kembali" Mengantarkan Zahratun Nurinnissa Meraih Juara I Tingkat Nasional

Lhokseumawe – Sebuah hobi yang terus diasah dapat menjadi jalan menuju prestasi. Hal itulah yang dibuktikan oleh Zahratun Nurinnissa, mahasiswi Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Melalui puisi berjudul "Di Ujung Senja, Harapan Kembali", ia berhasil meraih Juara I dalam Lomba Tulis Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Lomba Seni Sastra Indonesia bekerja sama dengan Penerbit Aksara Pilar Nusantara.

Ajang tersebut berlangsung pada 5–12 Mei 2026 dengan pengumuman pemenang pada 13 Mei 2026. Di tengah persaingan karya dari berbagai perguruan tinggi, puisi yang ditulis Zahratun mampu menarik perhatian dewan juri hingga mengantarkannya menjadi juara pertama.

Bagi Zahratun, menulis puisi bukan sekadar mengikuti perlombaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan yang selama ini ia tekuni. Ketertarikannya pada dunia kepenulisan mendorongnya untuk terus mencoba berbagai kesempatan agar dapat mengukur kualitas karya yang dimilikinya.

"Saya mengikuti lomba ini karena ingin mencoba kemampuan saya dalam menulis puisi. Menulis juga sudah menjadi hobi saya, sehingga saya ingin terus belajar dan mengembangkan kemampuan tersebut melalui berbagai kompetisi," ungkapnya.

Ketua Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Istiqamah, M.Pd., menilai bahwa keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya keberanian mahasiswa dalam mengaktualisasikan kemampuan yang dimiliki.

"Program studi akan selalu mendukung mahasiswa yang ingin mengembangkan potensinya. Prestasi seperti ini tidak lahir secara instan, tetapi melalui kemauan untuk terus belajar, berlatih, dan berani menunjukkan hasil karyanya kepada publik," ujarnya.

Capaian ini menjadi salah satu hasil pembinaan mahasiswa yang dilakukan Program Studi Tadris Bahasa Indonesia dalam mendorong pengembangan kompetensi dan peningkatan prestasi di tingkat nasional. Selain mengikuti proses pembelajaran di kelas, mahasiswa juga didorong untuk menghasilkan karya yang dapat dipublikasikan maupun diikutsertakan dalam berbagai kompetisi. Dengan demikian, pengalaman belajar tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga menghasilkan prestasi yang memberikan manfaat bagi pengembangan kompetensi mahasiswa.

 

Share this Post