Dosen FTIK UIN SUNA, Dr. Syarifah Rahmah Bawakan Puisi di Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh

Aceh menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV yang berlangsung pada 21–28 Juni 2026. Mengusung tema "Dari Diksi Menjadi Aksi", kegiatan ini menghadirkan ratusan penyair dari berbagai daerah di Indonesia serta perwakilan penyair dari 14 negara yang diundang untuk merayakan sastra sebagai ruang kolaborasi, refleksi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Salah satu tamu undangan yang turut tampil dalam kegiatan bergengsi tersebut adalah Dr. Syarifah Rahmah, M.Ag., dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Beliau dipercaya sebagai salah satu penyair undangan dalam forum sastra internasional yang mempertemukan para penyair Nusantara bersama delegasi dari 14 negara. Pada 26 Juni 2026, Dr. Syarifah Rahmah membacakan puisi berjudul "Empati Mati, Simpati Pergi" di hadapan para penyair dan tamu undangan. Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian pembacaan karya sastra hasil kurasi yang mewarnai penyelenggaraan PPN XIV.

Dr. Syarifah Rahmah merupakan akademisi asal Kota Lhokseumawe, Aceh, yang aktif berkarya di bidang sastra dan pendidikan. Selain menjalankan profesinya sebagai dosen, beliau juga produktif menulis puisi, cerpen, buku, serta berbagai artikel ilmiah dan jurnal pendidikan. Kiprahnya di dunia sastra menjadikannya kerap terlibat dalam berbagai kegiatan literasi dan forum kebudayaan, baik di tingkat regional maupun nasional.

Penyelenggaraan PPN XIV di Aceh memberikan pengalaman yang berkesan bagi para peserta melalui berbagai agenda sastra dan budaya yang mempererat hubungan antarsastrawan. Kehadiran penyair-penyair terpilih dari berbagai daerah di Indonesia dan 14 negara semakin memperkaya dialog kebudayaan serta memperkuat peran sastra sebagai media diplomasi budaya yang menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.

Sejalan dengan tema "Dari Diksi Menjadi Aksi", pembacaan puisi "Empati Mati, Simpati Pergi" menjadi refleksi bahwa sastra tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan empati, memperkuat kepedulian sosial, dan menjadikan karya sastra sebagai inspirasi bagi tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Share this Post