Mahasiswa TBI Jadi Bintang Tamu Program RRI Outside The Box, Bagikan Inspirasi Belajar Bahasa Inggris Tanpa Batas
Lhokseumawe — Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN Sultanah Nahrasiyah sekaligus anggota English Department Student Association (EDSA), Alvi Lutviah Budi, dipercaya menjadi narasumber dalam program Outside The Box yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Lhokseumawe pada 9 Juli 2026. Mengusung tema "Forward Motion with English Through Your Limit", program yang dipandu oleh Marley bersama Harsya dan Taruna ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube RRI Lhokseumawe.
Kehadiran Alvi sebagai perwakilan EDSA menjadi wujud kepercayaan yang diberikan kepada mahasiswa Tadris Bahasa Inggris untuk berbagi pengalaman, motivasi, serta pandangan mengenai pembelajaran bahasa Inggris yang inklusif. Dalam sesi wawancara, Alvi menceritakan alasan dirinya memilih Program Studi Tadris Bahasa Inggris serta perjalanan belajarnya sebagai seorang mahasiswa tunanetra.
Pada kesempatan tersebut, Alvi juga memperkenalkan berbagai teknologi bantu yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari, seperti fitur pembaca layar (screen reader) pada telepon genggam dan laptop. Menurutnya, teknologi tersebut sangat membantu penyandang tunanetra dalam mengakses informasi, membaca materi perkuliahan, hingga mempelajari bahasa Inggris secara mandiri.
Selain berbagi pengalaman pribadi, Alvi menjelaskan strategi yang diterapkannya dalam mempelajari bahasa Inggris secara bertahap, dimulai dari penguasaan kosakata, membangun pemahaman tata bahasa, hingga melatih kemampuan berkomunikasi secara konsisten. Ia juga mengungkapkan bahwa keterampilan yang menurutnya paling menantang untuk dikuasai adalah speaking, karena membutuhkan latihan yang berkelanjutan, rasa percaya diri, serta kesempatan untuk berinteraksi secara langsung.
Dalam sesi inspiratif tersebut, Alvi juga mengungkapkan cita-citanya untuk melanjutkan studi magister di Australia. Menurutnya, Australia merupakan salah satu negara yang dikenal memiliki sistem pendidikan dan fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas, termasuk tunanetra. Dukungan terhadap aksesibilitas, teknologi bantu, serta lingkungan belajar yang inklusif menjadi alasan utama Alvi memilih Australia sebagai tujuan untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensinya di masa depan.
Menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, Alvi menekankan pentingnya menghargai setiap individu tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik. "Lingkungan yang inklusif bukan hanya mengajak penyandang disabilitas untuk hadir, tetapi juga memberikan kesempatan yang sama untuk berbicara, menyampaikan pendapat, dan mengekspresikan diri. Jangan jadikan mereka hanya sebagai pelengkap, tetapi libatkan mereka sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri," ungkapnya.
Alvi juga membagikan sosok yang menjadi sumber inspirasinya, yaitu Helen Keller, seorang penulis, aktivis, dan pendidik asal Amerika Serikat yang tetap mampu meraih berbagai prestasi meskipun mengalami tunanetra dan tunarungu sejak usia dini. Semangat juang, ketekunan, serta kontribusi Helen Keller dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas menjadi motivasi bagi Alvi untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Ketua Jurusan Tadris Bahasa Inggris, Cut Hafni, M.Pd., mengapresiasi kepercayaan yang diberikan RRI kepada mahasiswa TBI. Menurutnya, kehadiran Alvi sebagai narasumber tidak hanya mencerminkan kompetensi mahasiswa dalam bidang bahasa Inggris, tetapi juga menjadi inspirasi tentang pentingnya pendidikan yang inklusif. "Kami bangga melihat mahasiswa Tadris Bahasa Inggris mampu menjadi representasi kampus dalam ruang publik. Apa yang disampaikan Alvi menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan keberanian untuk berbagi pengalaman mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang. Semoga semakin banyak mahasiswa yang berani menunjukkan potensinya di berbagai forum," ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan oleh Wakil Dekan III FTIK, Dr. Nurul Fadhilah, M.Hum. Beliau menilai bahwa keikutsertaan Alvi dalam program RRI menjadi contoh nyata bahwa mahasiswa FTIK memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai pendidikan, inklusivitas, dan motivasi kepada masyarakat. "Alvi telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Kami berharap kehadirannya dalam program ini dapat menginspirasi generasi muda agar terus percaya pada kemampuan diri, menghargai keberagaman, serta membangun lingkungan belajar yang inklusif bagi semua," tuturnya.
Partisipasi Alvi dalam program Outside The Box tidak hanya menjadi kebanggaan bagi EDSA dan Program Studi Tadris Bahasa Inggris, tetapi juga memperkuat komitmen mahasiswa TBI untuk terus berkontribusi dalam menyebarkan semangat belajar, kesetaraan, dan pendidikan yang inklusif melalui berbagai ruang kolaborasi di tengah masyarakat.