Dosen Tadris Bahasa Indonesia UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Jadi Speaker SENAPASTRA IV

Lhokseumawe- Dosen Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Isfiana Nursari, M.Pd., dipercaya menjadi salah satu pembicara dalam SENAPASTRA IV yang mengangkat tema “Language Learning in the Era of Artificial Intelligence: Rethinking Pedagogy, Innovation, and Future Competencies”.

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Sabtu, 26 September 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. SENAPASTRA IV menghadirkan dua pembicara, yakni Dr. James Frollan D. Villanueva dari Cotabato Foundation College of Science and Technology, Filipina, dan Isfiana Nursari, M.Pd. dari UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Aceh, Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Isfiana Nursari, M.Pd. menyampaikan materi berjudul “Pembelajaran Bahasa di Era Kecerdasan Artifisial: AI sebagai Mitra Pembelajaran Bahasa. Merancang Pedagogi yang Adaptif, Kreatif, dan Humanis.”

Dalam pemaparannya, Isfiana menjelaskan bahwa kehadiran kecerdasan artifisial (AI) telah membawa perubahan nyata dalam ekosistem pembelajaran bahasa. Dengan bantuan AI, mahasiswa kini dapat mencari informasi, merangkum, menerjemahkan, menulis, berbicara, menganalisis teks, hingga memperoleh umpan balik secara cepat.

Perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan mendasar bagi dunia pendidikan: Jika AI dapat menghasilkan jawaban, apa yang seharusnya diajarkan dalam pendidikan?

Menurut Isfiana, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada transfer informasi dan menghasilkan jawaban yang benar. Pembelajaran perlu diarahkan pada kemampuan berpikir, menilai, mencipta, memverifikasi, dan bertanggung jawab.

Ia menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari sekadar “menggunakan AI” menuju “belajar bersama AI”. Dalam konsep tersebut, AI dapat dimanfaatkan sebagai mitra dialog, penerjemah, penyunting, pemberi umpan balik, maupun sumber gagasan. Namun, AI tetap memiliki keterbatasan sehingga penilaian dan pertimbangan manusia (human judgment) tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

Isfiana juga memperkenalkan tiga dimensi penting dalam pembelajaran di era AI, yaitu learning from AI, learning with AI, dan learning about AI. Mahasiswa tidak hanya belajar memperoleh informasi dari AI, tetapi juga memanfaatkan AI untuk mengeksplorasi dan berlatih, sekaligus memahami kemampuan, keterbatasan, bias, serta aspek etis dalam penggunaan teknologi tersebut.

Dalam konteks pembelajaran bahasa, AI dapat digunakan untuk memperkuat empat keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, bukan menggantikan proses latihan berbahasa.

Pada keterampilan menyimak, misalnya, mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk menghasilkan transkripsi atau ringkasan dari bahan yang didengarkan, kemudian membandingkannya dengan hasil pemahaman sendiri dan menemukan perbedaan atau kekeliruan. Sementara pada keterampilan berbicara, AI dapat dimanfaatkan untuk melakukan simulasi percakapan, presentasi, maupun debat serta memberikan umpan balik awal.

Dalam keterampilan membaca, pemanfaatan AI diarahkan untuk mendorong mahasiswa bergerak dari sekadar memahami isi bacaan menuju critical reading atau kemampuan membaca secara kritis. Adapun dalam keterampilan menulis, AI dapat digunakan sebagai bagian dari proses penyusunan draf, revisi, dan refleksi, dengan tetap menempatkan mahasiswa sebagai pengendali utama proses kreatif dan akademiknya.

Isfiana juga menyoroti perkembangan kebijakan pendidikan yang menunjukkan adanya pergeseran dari pendekatan pelarangan AI menuju pedoman penggunaan yang kritis, bertanggung jawab, dan etis. Karena itu, literasi AI menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan dalam pendidikan bahasa.

Ketua Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Istiqamah, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas keterlibatan Isfiana Nursari dalam SENAPASTRA IV. Menurutnya, keikutsertaan dosen dalam forum ilmiah nasional maupun internasional menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi akademik dan penguatan eksistensi Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. “Kami berharap keterlibatan dosen dalam forum ilmiah seperti SENAPASTRA IV dapat terus meningkatkan kompetensi, wawasan, dan kontribusi akademik dosen, khususnya dalam merespons perkembangan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran bahasa. Semoga pengalaman dan gagasan yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa serta mendorong inovasi pembelajaran di Program Studi Tadris Bahasa Indonesia,” ujar Istiqamah, M.Pd.

Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat budaya akademik dan kolaborasi ilmiah, sekaligus mendorong dosen dan mahasiswa untuk memanfaatkan perkembangan teknologi secara adaptif, kreatif, kritis, dan humanis.

Keikutsertaan Isfiana Nursari, M.Pd. sebagai speaker dalam SENAPASTRA IV menjadi salah satu bentuk kontribusi dosen Tadris Bahasa Indonesia dalam diskursus pendidikan bahasa di era kecerdasan artifisial. Kehadiran AI tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang untuk merancang pembelajaran bahasa yang lebih inovatif dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat proses pendidikan.

Share this Post