Dosen Tadris Bahasa Indonesia UIN Sultanah Nahrasiyah Isi Kuliah Dosen Tamu di UIN FATMAWATI SUKARNO BENGKULU

Dosen Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Istiqamah, M.Pd., menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Kuliah Dosen Tamu Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu yang mengangkat tema “Literasi Kritis Bahasa dan Sastra di Era Digital”.

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring pada Jumat, 25 September 2026, dengan menghadirkan sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi sebagai narasumber. Istiqamah dijadwalkan mengisi sesi pada pukul 14.30 hingga 17.30 WIB.

Dalam pemaparannya, Istiqamah membahas pentingnya literasi kritis dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital. Ia mengajak peserta untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi pembaca sekaligus pencipta teks yang kritis.

Menurutnya, kemampuan membaca secara kritis diperlukan agar seseorang tidak mudah menerima begitu saja informasi yang ditemukan di media sosial, pesan berantai, berita, iklan, maupun berbagai bentuk teks digital lainnya.

Salah satu contoh yang disampaikan berkaitan dengan konteks waktu dalam sebuah informasi. Teks yang sama dapat memiliki makna berbeda ketika beredar pada waktu dan situasi yang berbeda.

Sebagai ilustrasi, informasi mengenai banjir yang pernah terjadi pada suatu daerah dapat menjadi informasi faktual ketika disampaikan pada saat peristiwa berlangsung. Namun, apabila informasi tersebut disebarkan kembali bertahun-tahun kemudian tanpa mencantumkan konteks waktu, informasi itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman bahkan kepanikan.

Selain konteks, Istiqamah juga mengajak peserta memperhatikan bagaimana bahasa digunakan dalam sebuah teks. Pemilihan kata tertentu dapat membentuk persepsi pembaca terhadap suatu peristiwa.

Dalam sesi interaktif, peserta diajak menganalisis penggunaan kata seperti “menyerbu” dalam sebuah kalimat. Menurutnya, kata tersebut memiliki nuansa yang berbeda dengan kata yang lebih netral seperti “mendatangi” atau “mengantre”.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga dapat membentuk cara pembaca memandang suatu peristiwa.

Istiqamah juga memperkenalkan sejumlah pertanyaan kritis yang dapat digunakan ketika membaca berbagai jenis teks. Di antaranya adalah kata apa yang digunakan, kata apa yang tidak digunakan, siapa yang berbicara, siapa yang dibicarakan, serta siapa yang tidak diberikan ruang untuk berbicara.

Kelima pertanyaan tersebut, menurutnya, dapat diterapkan pada berbagai bentuk teks, mulai dari berita, caption media sosial, iklan, pengumuman, hingga percakapan dalam grup pesan.

Selain memahami teks, peserta juga diajak mengevaluasi informasi berdasarkan sejumlah aspek, seperti akurasi, kredibilitas sumber, proporsionalitas bahasa, kelengkapan informasi, dan dampaknya terhadap pembaca.

Istiqamah menekankan bahwa penilaian terhadap sebuah teks sebaiknya tidak didasarkan pada rasa suka atau tidak suka maupun tingkat popularitasnya. Pembaca perlu memiliki alasan yang jelas sebelum menyimpulkan apakah suatu informasi layak dipercaya, perlu dikoreksi, atau sebaiknya ditolak.

Dalam materi lainnya, ia memberikan contoh mengenai pesan berantai dan iklan digital. Peserta diajak memeriksa sumber informasi, menelusuri rekam jejak penyelenggara atau pengiklan, membandingkan klaim dengan sumber tepercaya, serta mencermati penggunaan bahasa yang berlebihan dan urgensi palsu.

Melalui kegiatan tersebut, Istiqamah berharap mahasiswa semakin memiliki kemampuan untuk membaca dan memahami teks secara kritis, terutama di tengah derasnya informasi digital.

Ia juga mendorong agar literasi kritis tidak berhenti pada kemampuan membedakan informasi benar dan salah, tetapi berkembang menjadi kebiasaan untuk mempertanyakan konteks, kepentingan, pilihan bahasa, sumber, serta dampak dari setiap informasi yang diterima maupun disebarkan.

Kuliah dosen tamu tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai bahasa dan sastra Indonesia sekaligus memperkuat kemampuan literasi kritis dalam menghadapi perkembangan komunikasi digital.

Share this Post